Kete Kesu (Desa Adat)
Terletak di ketinggian pegunungan Toraja Utara, Desa Budaya Kete Kesu seolah menjadi gerbang waktu yang membawa setiap pengunjung kembali ke masa lalu. Begitu memasuki kawasan ini, pandangan akan langsung tertuju pada barisan Tongkonan, rumah adat megah dengan atap menyerupai perahu yang berjajar rapi menghadap lumbung padi atau alang. Ukiran khas berwarna merah, hitam, dan kuning yang menyelimuti dinding kayu bangunan ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol status sosial dan filosofi hidup masyarakat Toraja yang sangat menghormati leluhur.
Melangkah lebih dalam ke arah tebing batu di belakang desa, suasana berubah menjadi lebih magis dan sakral. Di sana terdapat kompleks pemakaman tebing kuno yang telah berusia ratusan tahun, di mana peti mati berbentuk hewan yang disebut erong diletakkan di celah-celah bukit kapur. Dari kejauhan, pengunjung dapat melihat patung kayu menyerupai orang mati yang disebut tau-tau, berdiri tegak di balkon tebing seolah sedang mengawasi keturunan mereka yang masih hidup. Keberadaan tengkorak dan tulang belulang yang tertata di gua-gua alami mempertegas kedalaman tradisi penghormatan terhadap kematian di desa ini.
Kete Kesu bukan sekadar destinasi wisata, melainkan jantung dari tradisi Rambu Solo yang tetap lestari hingga hari ini. Kehidupan masyarakatnya mencerminkan keharmonisan antara adat istiadat yang kental dengan keramahan yang tulus kepada pendatang. Di sela-sela rutinitas harian, para pengrajin lokal masih tekun memahat ukiran kayu dengan tangan, memastikan bahwa warisan budaya yang diakui dunia ini tidak akan lekang oleh waktu. Mengunjungi desa ini memberikan pengalaman spiritual yang mendalam tentang bagaimana hidup dan mati dirayakan dalam satu kesatuan yang indah.














