Aku dan Senja Losari
Senja di Pantai Losari selalu punya cara sendiri untuk membuat hati melambat.
Saat matahari mulai turun, langit Makassar berubah seperti kanvas raksasa—jingga, merah muda, dan ungu saling berpelukan. Angin laut berembus pelan, membawa aroma asin yang khas, seolah mengajak siapa pun yang datang untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk hari.
Di sepanjang anjungan, orang-orang berdiri berdampingan: ada yang diam menikmati, ada yang mengabadikan, ada pula yang sekadar tersenyum tanpa alasan. Ombak kecil berkejaran lembut di tepi, memantulkan cahaya senja yang perlahan meredup. Perahu-perahu nelayan tampak seperti siluet hitam, tenang di atas laut yang mulai gelap.
Senja di Pantai Losari bukan hanya tentang matahari yang pulang, tapi tentang rasa syukur yang diam-diam tumbuh. Tentang jeda, tentang pulang ke diri sendiri. Di tempat ini, waktu seakan berkata pelan: tak apa lelah hari ini, besok kita lanjutkan lagi.
Penulis : Mahmud Nur













