Serunya ke Benteng Kerajaan Buton
Keluarga kecil Haris , ayah Haris, ibu Rina, dan dua anak mereka yang bersemangat, Fikri (10) dan Zahra (8) telah lama merencanakan kunjungan ke Benteng Kerajaan Buton di Baubau. Pagi itu, di bawah langit biru cerah Sulawesi Tenggara, mereka melangkah memasuki gerbang benteng yang kokoh, terbuat dari susunan batu kapur yang membentang luas. Mata Fikri dan Zahra langsung berbinar melihat tembok pertahanan terpanjang di dunia itu. Mereka berlarian kecil di atas jalur setapak, membayangkan para prajurit dan raja-raja Buton di masa lalu. Haris dan Rina tersenyum, merasakan aura sejarah yang begitu kental menyelimuti setiap sudut benteng.
Saat menjelajahi kompleks benteng yang luas, mereka berhenti di berbagai peninggalan seperti Masjid Agung Keraton dan meriam-meriam tua. Zahra bertanya dengan polos, “Apakah raja dulu benar-benar tinggal di sini, Ayah?” Haris dengan sabar menjelaskan tentang sistem pertahanan dan kehidupan sosial di dalam benteng pada masa Kesultanan Buton. Mereka berfoto di salah satu bastion, dengan pemandangan Kota Baubau dan laut lepas yang membentang indah sebagai latar belakang. Keceriaan terpancar jelas di wajah mereka; Benteng Buton bukan hanya situs sejarah, tetapi juga taman bermain imajinasi yang luas bagi anak-anak.
Setelah puas berjalan kaki dan mengambil banyak foto, perut mereka mulai keroncongan. Mereka memutuskan untuk menikmati hidangan khas lokal di dekat area benteng. “Apalagi kalau bukan Kasuami!” seru Haris sambil menyendok Kasuami yang bertekstur kasar dari singkong, ditemani ikan parende yang segar dan pedas. Rina dan anak-anak tak mau kalah, menikmati sensasi unik Kasuami yang dicocolkan ke sambal terasi atau dicampur dengan sayur kangkung. “Rasanya unik sekali, seperti roti dari pasir tapi enak!” kata Fikri, membuat semua tertawa. Mereka makan dengan lahap, menikmati cita rasa Buton yang otentik dan seru. Makanan sederhana itu terasa istimewa karena dimakan bersama sambil berbagi cerita pengalaman berkeliling benteng tadi.
Sore menjelang, dan keluarga Haris menemukan tempat yang sempurna untuk duduk santai sambil memandang matahari terbenam: di dekat pintu gerbang utama yang menghadap ke laut. Cahaya jingga keemasan menyinari dinding-dinding batu benteng, memberikan pemandangan yang dramatis dan penuh kedamaian. Haris merangkul Rina, sementara anak-anak duduk di pangkuan mereka, merasa nyaman dan bahagia.

