Tari Kipas Pakarena, salah satu tarian tradisional paling ikonik dari Sulawesi Selatan:
Asal Tarian
Tari Kipas Pakarena berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan. Tarian ini merupakan warisan berharga dari masa Kerajaan Gowa dan telah menjadi simbol kelembutan serta kesantunan perempuan di daerah tersebut.
Cerita Tarian
Menurut legenda masyarakat setempat, Tari Kipas Pakarena mengisahkan tentang perpisahan antara penghuni Boting Langi (negeri khayangan) dengan penghuni Lino (bumi) di zaman dahulu.
Pesan Moral: Sebelum kembali ke khayangan, penghuni Boting Langi mengajarkan cara bertahan hidup kepada penghuni bumi, mulai dari cara bercocok tanam, beternak, hingga berburu.
Makna Gerakan: Gerakan tari yang sangat lembut, gemulai, dan lambat menggambarkan rasa syukur dan terima kasih manusia kepada sang pencipta. Gerakan memutar searah jarum jam melambangkan siklus hidup manusia, sedangkan gerakan naik-turun mencerminkan roda kehidupan yang kadang di atas dan kadang di bawah.
Diadakan Setiap:
Tarian ini tidak terikat pada satu tanggal kalender tertentu, melainkan dipentaskan pada momen-momen berikut:
Upacara Adat: Seperti perayaan panen raya atau ritual syukur.
Penyambutan Tamu: Digunakan untuk menyambut tamu kehormatan atau pejabat yang berkunjung ke daerah Gowa/Makassar.
Acara Budaya: Sering ditampilkan dalam festival seni, pesta pernikahan adat, dan peringatan hari jadi kabupaten atau provinsi.
Catatan Unik: Dalam pertunjukan ini, penari dilarang membuka mata terlalu lebar dan kaki tidak boleh diangkat terlalu tinggi. Hal ini mencerminkan karakter perempuan Gowa yang patuh, sopan, dan hormat.

