Tari Pajoge

Tari Pajoge adalah tarian tradisional yang sangat populer di Sulawesi Selatan, khususnya di kalangan masyarakat Bugis. Tarian ini memiliki nuansa kegembiraan dan interaksi sosial yang khas.

Asal Tarian

Tari Pajoge berasal dari Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Tarian ini diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Bone (sekitar abad ke-17 atau ke-18). Tarian ini kemudian menyebar ke daerah lain seperti Wajo, Soppeng, dan Barru.

Terdapat dua jenis utama:

  • Pajoge Makkunrai: Dibawakan oleh penari perempuan (gadis).

  • Pajoge Angkong: Dibawakan oleh penari calabai (waria/bissu).


Cerita Tarian

Pajoge memiliki sejarah yang unik sebagai media komunikasi antara rakyat dan bangsawan. Berikut adalah ceritanya:

  • Media Penghibur Istana: Awalnya, Pajoge adalah tarian hiburan di lingkungan istana. Penarinya berasal dari kalangan rakyat biasa, sedangkan penontonnya adalah kaum bangsawan atau laki-laki dari kalangan ningrat.

  • Simbol Kedekatan: Tarian ini berfungsi untuk mendekatkan raja/pemimpin dengan rakyatnya. Melalui suasana yang santai dan menghibur, hubungan emosional antara pemimpin dan rakyat dapat terjalin lebih erat.

  • Tradisi “Mappasompe”: Dalam pertunjukan, penari akan menari melingkar sambil bernyanyi. Pada momen tertentu, penari akan memberikan daun sirih kepada salah satu penonton laki-laki. Penonton yang terpilih kemudian akan ikut menari bersama (mengibing) dan memberikan imbalan atau hadiah kepada penari sebagai tanda kehormatan.

  • Filosofi Gerakan: Gerakannya melambangkan keceriaan, kelembutan, namun tetap waspada. Misalnya, gerakan Massessere (mengelilingi) bermakna bahwa manusia harus selalu berhati-hati dalam menjaga diri dan keluarga.


Diadakan Setiap

Pada masa lalu, Pajoge adalah hiburan rutin di istana, namun sekarang biasanya diadakan pada:

  1. Pesta Rakyat: Menjadi bagian dari perayaan syukur setelah masa panen atau keberhasilan suatu pekerjaan besar di desa.

  2. Acara Adat & Pernikahan: Sering ditampilkan sebagai hiburan bagi tamu undangan dalam upacara pernikahan bangsawan atau tokoh masyarakat.

  3. Festival Budaya: Menjadi pertunjukan seni pada acara tahunan seperti Hari Jadi Bone atau festival literasi dan seni di Sulawesi Selatan.

  4. Penyambutan Tamu: Digunakan untuk menyambut tamu kehormatan yang berkunjung ke daerah Bone atau Sulawesi Selatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »